Membuat kerajinan

10.jpg

Membuat kerajinan

“Dia kebalikan dari efek kemo seperti pusing, mual, dan” jelas Ratih Purwasih kakak pertama yang merawat Rossini.
Rosani tinggal bersama ibunya sampai dia kuliah. Rosane masih mahasiswa yang energik. Dari memiliki seorang administrator oasis dan
Kegiatan pramuka ekstrakurikuler, paket bra untuk kegiatan olahraga di perguruan tinggi yang dia ikuti. Hidup dari mengandalkan
Suami dan upah kue sebagai penjaga keamanan, jelas, membuat Ratih harus berjuang mengumpulkan uang untuk kepentingan adiknya
pengobatan. Kondisi Rosani semakin parah saat ditangani di Rumah Sakit Angkatan Laut. Rosani merasakan sakit dan nyeri di paha kanannya di tulang
Dan kehangatan. Padahal BPJS membiayai beberapa perawatan ini, biaya transportasi Tarakan – harga hidup dari ibu kota
Yang tidak kecil, yang membuat siswa aktif dalam berbagai kegiatan fakultas dan Jakarta perlu berpartisipasi untuk mendapatkan
uang. “Dukungan tiket dari pemerintah daerah dan Baznas serta warga. Kas itulah yang biasa berangkat ke Jakarta,” tegasnya
Ratih. Sesekali tangan murid sekolah menengah atas yang terpaksa kuliah sejak semester menggosoknya
Kepala pelindung karena sebatang es krim yang dia masukkan ke tempat yang salah. Ratih membawa Rosani kembali ke Tarakan dengan memanfaatkan
BPJS, bisa diperoleh ke rumah sakit umum. Sampai tingkat berikutnya SMA di semester I, rumah truk kecil Rosani
dari sekolah. Sejak saat itu rasa sakit pada sakit di kaki dan tulang belakangnya semakin meningkat. Tidak mampu
Menarik Rosani untuk menemui dokter. BPJS di Rosani tidak bisa dimanfaatkan di Tolitoli. Tinggal di keluarga orang tua tunggal dan keluarga Rosani
Untuk bergabung dengan saudaranya. Selain mengesampingkan penjualan kue, Ratih juga menghasilkan banyak usaha penggalangan dana
Untuk membantu harga perawatan kakaknya dengan melihat agen swasta dan pemerintah. Sebanyak 7 kemoterapi yang dimilikinya
Untuk tinggal di samping membuat kepalanya botak, dan berat tubuhnya turun menjadi 20 kilogram. “Saya sering membuat kerajinan tangan di sekolah.
Setelah itu ingin dijual di internet untuk menumbuhkan biaya kemoterapi, “katanya, Kamis (16/06/2017). Namun, pengobatan
Upaya di kota Tarakan tidak semudah yang dibayangkan. Rosani ditolak di Rumah Sakit Kota Tarakan tanpa alasan.
Untungnya, Rosani akan diakomodasi oleh Rumah Sakit TNI AL Tarakan. Penderitaannya tidak dibuat dengan perlakuan dukun,
Pada hari-hari dimana rasa sakit di tulang dan panasnya terasa di paha kanan Rossini menjadi semakin kuat. “Orang tua tidak mampu
Itu di desa pengobatan sendiri, bereskan, “Ratih menjelaskan. Saat itu, Rosani merasakan sakit di kaki kanan dan belakang.
Sering panas dan bengkak Namun, sang ibu percaya bahwa karena Rosani lelah. Dorongannya bisa mengalahkan kanker kelenjar getah bening di tubuhnya
Kanker tulang tangan kanan, dan tumor ovarium ganas yang menggerogoti. Namun, semangat untuk menyembuhkan kembali kuliah membuat chemo
Efeknya seperti sakit perut, dan pusing, mual bisa dilalui Rosani. Bobotnya telah mencapai 30 lbs. Jari-jari yang meruncing
Dengan cekatan menempel pada selembar es krim yang tertata di lantai. Satu per satu batang es krim dirakit oleh Rossini
(17) ke dalam berbagai kerajinan seperti vas bunga, kotak tisu, hiasan dinding, dan barang kerajinan lainnya. Rombongan kerajinan direncanakan
Dijual online untuk meningkatkan biaya biaya terapi yang harus dilakukan. Mulai dari truk Beruntung dari bantuan nomor
Warga yang memahami kesusahan Rosani beserta bantuan dari pemerintah daerah dan Baznas, Ratih berhasil mengumpulkan
Voucher ke Jakarta dibeli oleh pemerintah daerah dan Baznas dan uang Rp 2 juta. Setelah 20 hari dirawat di AL
RS Tarakan, Rosani pergi ke Jakarta. Dengan hasil pemeriksaan, dokter mencatat bahwa Rosani bertahan dari paru-paru fase 4
kanker. Keterbatasan peralatan membuat terapi Rosani harus dilakukan di Jakarta. Rosani dibuat untuk melanjutkan bergabung dengannya
Ibu untuk menjaga SMA Di Kota Tarakan, Rosani tinggal bersama adik perempuannya yang pertama, Ratih Purwasih. Saudara
Yang menjual kue sementara suaminya sebagai satpam, tidak cukup menjaga nyawa sendiri, biar Ratih termasuk dua
Anak-anak.

http://kerajinantangan.sosblogs.com/kerajinan-b1/Buat-Rosani-Berharap-Bisa-Perawatan-Costi-3-Kanker-Yang-Terluka-Kerajinan-b1-p21.htm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s